Jumat, 16 Maret 2012

METODE, TEKNIK DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK KELAS (I, II, &III) “PEMBELAJARAN TEMATIK”




Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Peserta didik pada Sekolah Dasar yang duduk di kelas-kelas awal (kelas I, II & III) berada dalam rentangan usia dini. Pada usia dini, seluruh aspek perkembangan kecerdasan anak (IQ, EQ dan SQ) tumbuh dan berkembang sangat luar biasa cepat sehingga usia ini sering disebut usia emas (golden age) dalam perkembangan anak.
Dalam aspek perkembangan kognitif (berdasarkan teori/tahap perkembangan kognitif Piaget), anak usia ini berada pada tahap transisi dari tahap pra operasi ke tahap operasi konkrit. Piaget, dalam hal ini, menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap berbagai obyek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang obyek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan obyek dengan konsep yang sudah ada dalam pikirannya) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep dalam pikiran untuk menafsirkan obyek).
Proses belajar anak tidak sekedar menghafal konsep-konsep dan fakta-fakta, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Belajar dimaknai sebagai proses interaksi dari anak dengan lingkungannya. Anak belajar dari halhal yang konkrit, yakni yang dapat dilihat, didengar, diraba dan dibaui. Hal ini sejalan dengan falsafah konstruksivisme yang menyatakan bahwa manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan ini tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak. Sejalan dengan tahapan perkembangan dan karakteristik cara anak belajar tersebut, maka pendekatan pembelajaran siswa SD kelas-kelas awal adalah pembelajaran tematik.
Pengertian dan Karakteristik Pembelajaran Tematik.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Sebagai salah satu pendekatan pembelajaran, pembelajaran tematik memiliki sejumlah ciri/karakteristik, yaitu :
1. Berpusat pada siswa
2. Memberikan pengalaman langsung
3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
5. Bersifat fleksibel
6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

Setelah guru memahami pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran bahasa, selanjutnya guru harus menentukan metode atau cara apa yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelajarannya. Dalam bidang pengajaran metode adalah rencana penyajian bahan secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan atau approach tertentu. Jika approach masih bersifat filosofis atau aksioma, maka metode adalah implementasi atau cara melaksanakan pembelajaran tersebut, dalam hal ini proses belajar-mengajar bahasa.
Metode meliputi, pemilihan bahan, penentuan urutan bahan, pengembangan bahan, rancangan evaluasi dan remedial. Dikaitkan dengan Kurikulum 2004, maka langkah metode ditetapkan setelah guru menetapkan kompetensi dasar beserta indikator­indikatornya. Dewasa ini ada beberapa metode pembelajaran bahasa yang masih dipergunakan, baik secara terpisah-pisah maupun digabungkan beberapa metode dalam pelaksanaannya.
1.    Metode langsung
Metode ini menerapkan secara langsung semua aspek bahasa dalam bahasa yang diajarkan. Misal, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi anak-anak di daerah, bahasa pengantar di kelas adalah Bahasa Indonesia tanpa diselingi bahasa daerah/ bahasa ibu. Keunggulan dari metode ini, antara lain: murid terhindar dari verbalistik dan dapat menggunakan bahasa yang diajarkan secara wajar dan kontekstual.

2.   Metode alamiah
Metode ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau “customary method”. Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya sebagaimana yang dilalui oleh anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang harus ditempuh dalam pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia. Seperti Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar, kemudian berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi pada awal pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka memperkenalkan bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka dapat menyimak dengan baik, kemudian anak-anak diajak berbicara dan selanjutnya mulai diperkenalkan dengan membaca dan menulis.
3.   Metode tatabahasa
Metode ini dipusatkan pada pembelajaran vokabuler (kosakata) dan tatabahasa. Isi pelajaran terutama ditujukan untuk mempelajari kata-kata dan tatabahasa. Daftar kata-kata dipandang sebagai unit bahasa yang harus diajarkankan dan untuk itu sering pula diselingi terjemahan. Kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaannya dan sangat mudah dalam pelaksanaanya. Guru memberikan daftar kosakata dari teks dan kemudian diberikan penjelasan-penjelasan tentang tatabahasanya.
4.   Metode terjemahan
Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan untuk pengajaran bahasa asing, termasuk dalam hal ini Bahasa Indonesia yang pada umumnya merupakan bahasa kedua setelah penggunaan bahasa ibu yakni bahasa daerah. Prinsip utama pembelajarannya adalah bahwa penguasaan bahasa asing dapat dicapai dengan cara latihan terjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu murid atau ke dalam bahasa yang dikuasainya. Misal: latihan terjemahan dari Bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah atau dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Kelebihan metode ini dalam hal kepraktisan dalam pelaksanaannya dan dalam hal penguasaan kosakata dan tatabahasa dari bahasa yang baru dipelajari siswa.
5.   Metode pembatasan bahasa
Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan. Pembatasan itu dalam hal kekerapan atau penggunaan kosakata dan urutan penyajiannya. Kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. Pola-pola kalimat, perbendaharaan kata, dan latihan lisan maupun tulisan dikontrol dengan baik oleh guru.
6.    Metode linguistik
Nama lain dari metode ini adalah metode “oral aural”. Prinsip yang menjadi landasan metode ini adalah pendekatan ilmiah sebab yang menjadi landasan pembelajarannya senantiasa hasil penelitian para linguis (ahli-ahli bahasa). Titik pembelajarannya pada penguasaan bahasa lisan. Sebelum pembelajaran, diteliti terlebih dahulu persamaan dan perbedaan bahasa ibu dengan bahasa yang akan diajarkan, terutama persamaan dan perbedaan mengenai: bunyi-bunyi bahasa, perbendaharaan kata-kata, struktur kata dan kalimat. Urutan penyajian bahan pembelajaran disusun sesuai tahap-tahap kesukaran yang mungkin dialami siswa. Persamaan kedua bahasa tersebut terlebih dulu diajarkan, kemudian baru perbedaan-perbedaannya melalui latihan-latihan yang intensif. Dengan demikian pada metode ini tidak dilarang menggunakan bahasa ibu murid, karena bahasa ibu murid akan memperkuat pemahaman bahasa baru tersebut.
7.    Metode SAS (struktural analitik sintetik)
Metode SAS ( struktural analitik sintetik) bersumber pada ilmu jiwa gestalt yang berpandangan bahwa pengamatan/penglihatan pertama setiap manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang akan diajarkan kepada murid haruslah mulai ditunjukkan atau diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global. Setelah itu baru mencari atau menemukan bagian­bagian dari struktur global tersebut, ini yang disebut tahap analisnya. Setelah mengenal bagian serta fungsinya orang dewasa atau siswa akan mengembalikan bagian-bagian itu menjadi struktur totalitas seperti pada awalnya, yang disebut tahap sintesa. Metode ini banyak digunakan dalam metode pembelajaran membaca permulaan, tetapi sesungguhnya dapat dipergunakan dalam setiap aspek pembelajaran bahasa, sepert: pembelajaran kosa kata, kalimat, wacana bahkan dalam apresiasi sastra. Selain itu metode ini banyak pula dipakai dalam pembelajaran mata pelajaran lain.

8.   Metode bibahasa
Metode ini hampir sama dengan metode lingustik seperti yang telah diuraikan di muka. Dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing, bahan pembelajaran dididasarkan pada persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu dengan bahasa yang akan diajarkan tersebut. Bahasa ibu murid-murid digunakan untuk menerangkan perbedaan-perbedaan fonetik, kosakata, struktur kalimat dan tatabahasa kedua bahasa itu. Perbedaan-perbedaan tersebut digunakan sebagai dasar dalam latihan-latihan yang diberikan secara sistematis.
9.   Metode unit
Metode ini berdasarkan 5 tahapan pembelajaran, yaitu: mempersiapkan murid untuk menerima pelajaran, penyajian bahan, bimbingan melalui proses induksi, generalisasi dan penggunaannya. Di sekolah dasar, tahap-tahap tersebut dapat dikembangkan sebagai berikut:
a.    Dipilih unit/tema yang paling menarik bagi para siswa dengan cara memungut suara terbanyak dari siswa suatu kelas.
b.    Dibentuk kelompok untuk mempersiapkan percakapan dalam bahasa ibu murid.
c.    Guru menerjemahkan percakapan itu ke dalam bahasa yang akan diajarkan berikut tatabahasanya.
d.    Guru memberikan teks yang sesuai dengan tema yang dipilih tersebut, kemudian siswa mempelajari kosakata, terutama kosakata baru dan yang dianggap sukar.
e.    Siswa mulai berlatih menggunakan kata-kata tersebut dalam kalimat sesuai konteks pemakaiannya.
f.     Guru memperhatikan kalimat-kalimat yang disusun siswa sesuai kaidah tatabahasa.
g.    Siswa membaca kalimat-kalimat tersebut atau mendramatisasikannya, jika siswa telah mampu menyusun wacana percakapan yang sederhana.
h.    Untuk kelas-kelas tinggi kegiatan di atas dapat dilanjutkan dengan mengarang bebas.
Setelah Anda memahami pendekatan dan metode pembelajaran bahasa, berikutnya Anda harus memahami dan dapat menggunakan strategi atau teknik­teknik dalam pembelajaran bahasa yang dalam pengajaran umum lazim juga disebut metode. Strategi yang dimaksud adalah : ceramah, diskusi, demonstrasi, bermain peran, karyawisata dsb. Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun berdasarkan metode dan pendekatan yang dipilih guru.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa teknik pembelajaran bahasa, dari teknik yang paling abadi seperti teknik ceramah sampai dengan teknik pembelajaran mutakhir.
1.    Teknik Ceramah
Teknik ini digunakan untuk menyampaikan informasi. Bagi siswa sekolah dasar kelas rendah, teknik ini diperlukan sebagai latihan keterampilan menyimak. Pelaksanaan teknik ceramah di kelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan. Selesai ceramah, dapat diikuti dengan teknik tanya jawab.
2.    Teknik Tanya Jawab
Penggunaan teknik tanya jawab ini dapat diterapkan pada latihan keterampilan menyimak,berbicara,membaca dan menulis. Selain guru yang bertanya pada siswa, juga dapat dilakukan siswa yang bertanya pada guru, setelah guru ceramah atau bercerita. Di samping itu,guru dapat pula pada awal pelajaran sebagai pretest dan pada akhir pembelajaran yang disebut posttest.
3.    Teknik Diskusi Kelompok
Teknik ini dapat dilakukan di SD kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya.
4.    Teknik Pemberian Tugas
Teknik ini biasanya diberikan secara individual atau kelompok. Teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu. Untuk siswa kelas rendah tugas individual, seperti membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghapal puisi atau lagu.

5.    Teknik Bermain Peran
Teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang, tukang becak dsb. Selain itu dapat pula memerankan tokoh-tokoh dari benda-benda sekitar, misal: gunung, pohon, binatang, awan,angin, matahari dsb. Dengan menghayati peran-peran tersebut, diharapkan siswa terlatih untuk menghargai jasa dan peranan orang lain dalam kehidupannya, juga berlatih kerja sama dengan orang lain.
6.    Teknik Karyawisata
Teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang ada kaitannya dengan materi pembelajaran. Untuk kelas rendah, guru dapat membawa siswa untuk berjalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah, kemudian secara bergiliran siswa disuruh menceritakan benda-benda atau peristiwa yang ditemuinya. Untuk siswa kelas tinggi, siswa dapat mengarang atau mendeskripsikan tempat-tempat yang telah mereka kunjungi, misal: museum, kebun binatang, tempat pameran atau tempat karyawisata lainnya.
7.    Teknik Sinektik
Strategi pengajaran sinektik merupakan suatu strategi untuk menciptakan kelas menjadi suatu masyarakat intelektual , yang menyediakan berbagai kesempatan bagi siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan­gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi,bahasa dan seni. Pada dasarnya, kreativitas seseorang dapat dideskripsikan, didorong dan dapat ditingkatkan dengan sengaja karena kreativitas pada dasarnya adalah proses emosional. Kreativitas pada diri seseorang atau pada kelompok dapat ditingkatkan dengan cara menyadari proses kreatif dan memberikan bantuan secara sadar ke arah terjadinya kreativitas. Contoh dalam bahasa dengan meminta murid menggunakan gaya bahasa analogi atau metapora. Kelebihan teknik ini antara lain:
A.   Strategi ini bermanfaat untuk mengembangkan pengertian baru pada diri siswa tentang sesuatu masalah sehingga dia sadar bagaimana bertingkah laku dalam situasi tertentu.
  1. Strategi ini bermanfaat karena dapat mengembangkan kejelasan pengertian dan internalisasi pada diri siswa tentang materi baru.
  2. Strategi ini dapat mengembangkan berpikir kreatif, baik pada diri siswa maupun pada guru.
  3. Strategi ini dilaksanakan dalam suasana kebebasan intelektual dan kesamaan martabat antara siswa.
  4. Strategi ini membantu siswa menemukan cara berpikir baru dalam memcahkan suatu masalah.


2 komentar: